Kenyataannya, ketika di musim pertamanya bersama Yamaha tahun 2004, Rossi sukses meraih gelar juara dunia, semua pujian sepertinya memang hanya mengarah ke rider Italia itu. Delapan tahun kemudian, Rossi meninggalkan Yamaha untuk beralih ke Ducati. Dan ucapan Furusawa, apa boleh buat, masih sangat relevan.
Musim perdana duet Rossi-Ducati jelas berbanding terbalik dengan musim pertamanya di Yamaha. Rossi bukan cuma tak berhasil meraih gelar juara tetapi juga tak mampu meraih satupun juara seri sepanjang musim. Orang-orang lantas dengan segera menimpakan kesalahan ke pundak pabrikan. Dan usai Grand Prix Qatar lalu yang merupakan seri perdana MotoGP 2012, tuduhan langsung meluncur dari bibir Valentino. Menurutnya, pengambangan GP12 tidak mengikuti arahannya.
Banarkah demikian?
Tentu saja hanya orang-orang di internal Ducati yang tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Jika dilihat dari kejauhan, pabrikan yang baru saja diakuisisi oleh Audi itu jelas sudah berusaha keras memberikan tunggangan yang kompetitif untuk Rossi.
Tahun lalu misalnya, usai GP Inggris, Rossi mencak-mencak (dan banyak juga yang mencak-mencak ketika blog ini -saat itu masih bernama motogp-mania.com- menulis artikel berjudul “Rossi Mulai Menyerah dengan GP11?“). Pabrikan segera bereaksi, di seri berikutnya mereka memberi GP11.1 untuk Rossi.
GP11.1 adalah GP12 (versi awal) dengan mesin 800cc. Keputusan ini diambil karena saat mencoba GP12, Rossi mengaku cukup puas dengan performanya. Tetapi kenyataanya, GP11.1 masih belum bisa mengantar Rossi bersaing di baris terdepan. Lalu mulai GP Aragon, Ducati kembali membuat terobosan baru dengan memberi chassis bagian depan yang terbuat dari bahan aluminium menggantikan versi sebelumnya yang berbahan serat karbon. Namun lagi-lagi hasilnya masih 11-12 dengan pendahulunya.
Pada akhir tahun 2011, Ducati lantas memulai proyek GP12 dari awal lagi sehingga motor yang di uji coba oleh Rossi dan Nicky Hayden sejak test pra-musim pertama di Sepang adalah paket motor yang benar-benar baru. Ketika test Sepang pertama berakhir, Rossi mengaku suka dengan GP12 versi baru itu. Tetapi, begitu seri perdana berlalu, Rossi kembali mencak-mencak.
Banarkah Ducati tidak “mendengar” arahan Rossi?
Ada satu kalimat Rossi yang mungkin bisa memberi sedikit jawaban mengenai pertanyaan ini: “Saya bukan insinyur…” Kalimat ini beberapa kali disampaikannya di hadapan media.
Sekilas tentu tak ada yang istimewa dari kalimat itu. Memang kenyataannya Rossi bukan insinyur, ia adalah pembalap. Tapi, jika boleh sedikit menduga-duga, kalimat itu mengisyaratkan bahwa Rossi merasa para insinyur Ducati meragukan sarannya karena secara teknis mereka pasti merasa lebih paham bagaimana membangun sebuah motor.
Menggandeng seorang superstar sekelas Valentino Rossi tentu saja selalu disertai resiko seperti ungkapan Furusawa di atas. Tetapi mencoba sesuatu yang lain juga mengandung resiko yang tidak ringan bagi seorang superstar. Jika sampai benar-benar gagal menjinakkan Desmosedici, kesalahan mungkin bisa ditimpakan ke pabrikan, namun toh sejarah akan tetap mencatat: Valentino tidak bisa menang dengan Ducati.
So, buat Rossi dan Ducati, teruslah berjuang….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar